Pengantar Daurah Asy-Syariah ke-11


Menangkal Radikalisme Dengan Pemahaman Salaf

Wajah kaum muslimin telah tercoreng. Akibat perbuatan segelintir orang, kaum muslimin menanggung derita. Syiar-syiar keislaman yang semestinya bisa disajikan kepada segenap umat, malah dijadikan sebagai identifikasi penganut radikal. Jenggot, jubah, kopiah identik dengan penganut Islam garis keras. Sebagian umat langsung menjaga jarak bila dihadapkan dengan fenomena tersebut. Belum lagi bila dihadapannya berdiri sosok seorang muslimah berhijab dan bercadar. Tak sedikit yang langsung antipati.

Propaganda anti-Islam telah begitu tajam. Mengiris setiap sendi umat seakan tak tersisa lagi bagian umat yang bisa berpikir bijak. Tak sedikit dari kaum Muslimin yang teracuni propaganda menyesatkan  sehingga bersikap antipati pada syiar-syiar keislaman yang jelas bersumber dari Alquran dan Assunnah. Sebagai seorang muslim, semestinya menunjukkan identitas dirinya sebagai seorang muslim. Namun, akibat perbuatan segelintir orang, wajah seorang muslim yang tegas taat menampakkan keislamannya dicap sebagai muslim radikal.

Dampak lain dari propaganda menyesatkan, yaitu tidak tersuguhkan kehadapan umat wajah Islam nan lembut dan penuh rahmah. Sisi ajaran Islam yang memerintahkan untuk bersikap lemah lembut, bertutur santun, dan menampakkan akhlak mulia lainnya seakan terkubur. Maka, melalui Daurah Ilmiyah Asy-Syariah  ke-11 ini diharapkan tergali nilai-nilai Islam sebenarnya. Nilai-nilai yang telah diwariskan dari para salafu ash-shalih kepada umat sekarang ini. Sehingga pemahaman Islam yang benar bisa mewarnai kehidupan manusia dewasa ini.

Sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk berpegang teguh dengan ajaran agamanya. Sikap teguh dalam menjalankan Islam tidaklah identik dengan terminologi radikalisme dewasa ini. Kokoh dalam memegang prinsip berislam merupakan hak yang dijamin negara. Sehingga bagi seorang muslim tidak sepantutnya untuk lemah menampilkan jati diri keislamannya.

Termasuk dalam dakwah. Islam tidak mengajarkan cara-cara kekerasan membabibuta.  Radikalisme yang dipertontonkan dewasa ini, yang seakan mengenakan baju Islam, sebenarnya tidak selaras dengan Islam itu sendiri. Islam lebih mengedepankan sikap rahmah dan lemah lembut.  Allah Ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ‌ۖ فَٱعۡفُ عَنۡہُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ‌ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)

“Maka karena rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu. Karenanya, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila dirimu telah membulatkan tekad, hendaknya bertawakal kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (Ali Imran:159).

Gerakan ISIS, Syiah, Khawarij, Ikhwanul muslimin dan kelompok-kelompok ekstrim lainnya merupakan gerakan sesat yang membahayakan umat. Gerakan radikal Hutsi di Yaman, yang berusaha menggulingkan kekuasaan dan membantai kaum Muslimin, adalah contoh faktual dewasa ini dari sebuah gerakan yang didasari pemahaman Syiah. Di Suriah, demikian pula. Kaum Muslimin menjadi obyek pembantaian tak berkesudahan dari kelompok Syiah.

Inilah wajah radikalisme yang bakal mengancam kehidupan umat. Karenanya, kami terpanggil untuk menata kehidupan ini sehingga benar-benar didasari pemahaman Islam yang benar, yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh salafu ash-shalih. Seraya terus menyadarkan umat dari bahaya gerakan radikal seperti ISIS, Khawarij, Syiah dan lainnya.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa diberi kekokohan dalam taat kepada-Nya. Serta memohon keselamatan dari pemahaman sesat dan menyesatkan.